Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Cerpen Terimakasih atas RahmatMu


Karya Tulis Cerpen Terimakasih atas RahmatMu yang akan di tampilkan pada hari ini , semoga cerpen ini dapat menyadarkan kita untuk selalu mengingat Allah dan jangan di contoh yang buruknya ya.



Zaman telah berubah teman, tapi... apakah zaman akan merubah mu, merubah langkah mu, merubah tujuan hidup mu?? Aku, tidak. Hari ini aku meratapi nasib semua orang, bagaimana mungkin kita lupa kepada sesuatu yang maha segalanya, sedangkan kita selalu mendapatkan karunia, dan nikmatnya, mampukah kita sadar akan hal itu. Bagai mana kalau bumi berhenti berputar, bagai mana kalau matahari tak lagi bersinar, bagai mana kalau udara tak lagi dapat di hirup. Bagaimana? Apa yang dapat kita lakukan? Entahlah, tidak ada satu orangpun yang tahu.
Pagi begitu cerah, secerah yang selalu diberikan oleh Allah, aku tinggal disebuah desa, desa yang cukup asri dan makmur, apa kalian tahu satu hal, di desaku tidak ada orang yang termasuk dalam golongan benar-benar miskin, karena kami hidup makmur dengan hasil pertanian dan pertenakan yang kami miliki. Hidup adalah perjuangan, dan itulah yang aku pelajari disini.
Tapi.., satu hal yang kami lupa , bagaimana cara bersyukur, entah sejak kapan rasa syukur itu telah hilang dari hati kami semua, aku ingat satu hari, dikala aku masih kelas tiga SD, itu terakhir kalinya aku sholat idul fitri di mesjid desaku, terfikir oleh ku, berapa lama kami telah melupakan kewajiban kami, dan bagaimana kami bisa lupa akan semua itu.
Mesjid itu kami bangun sudah sejak lama, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu, mesjid yang awalnya benar-benar kami cintai, kami lindungi dan kami rawat, tetapi sekarang..
Mesjid itu memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung hampir setengah dari warga desa. Lihatlah di sekeliling mesjid, banyak dedaunan yang berserakan, pasirpun memenuhi lantai mesjid itu, sarang laba-laba hampir menutupi setiap jengkal plafon yang ada, halaman mesjid juga di tumbuhi oleh rerumputan yang hampir menutupi semua tanah yang ada, begitulah kondisi mesjid itu, tak pernah terbayangkan olehku sama sekali.
Aku adalah anak yatim piatu, ayah dan ibu ku telah meninggal sejak umurku 4 tahun mereka meninggal karena kecelakaan lalulintas, semenjak itu aku tinggal dirumah bibi ku, ayah dan ibu pernah berpesan agar kelak aku disekolahkan dipasentren, kedua orang tua ku berharap agar aku menjadi anak yang soleha, dan aku selalu berusaha menjadi seperti itu sampai saat ini.
Masa liburku, ku habiskan tinggal dirumah bibi ku, di kampung halaman ayah dan ibu, dan juga bisa dibilang di kampung halaman ku sendiri.  Hari ini seperti biasa, aku berjalan-jalan pagi di sekitar desa, rindu akan suasana disini, suasana yang sudah lama tidak aku rasakan, langkahku tiba-tiba terhenti, aku melihat bangunan yang tak pernah asing dimataku, walau bentuknya semakin menua. Aku melihat jam di tangan kanan ku, jam itu menunjukan jam 10 pagi, masih sempat, fikir ku.
“bu, apa ibu mau membatu saya membersihkan mesjid??” tanya ku kepada seorang ibu-ibu yang sedang memandikan anaknya.
“aduh, maaf neng!! Saya sedang memandikan anak saya!! ” jawab sang ibu itu
“ kalau begitu, bagaimana setelah memandikan anak ibu ” tanya ku lagi
“maaf neng, tapi.. setelah ibu memandikan anak ibu, ibu akan memasak dan mencuci ” jawab sang ibu dengan alasan yang sangat banyak
“oh..!! tidak apa buk, tapi.. bolehkah saya meminjam sapu dan peralatan kebersihan” tanya ku dengan lembut
“em.., tentu neng !!”
Alasan pasti selalu ada, kegiatan memang menjadi sesuatu hal yang wajib, tetapi.. bagaimana caranya agar kita bisa membagi waktu walau hanya sebentar, satu yang membuat ku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ibu itu dan keluarganya tidak pernah mempunyai niat untuk membersihkan mesjid itu, sedangkan mereka memanfaatkan sumur yang ada dimesjid untuk keperluan sehari-hari mereka.
Aku menggambil alat pembersih itu, dan aku langsung segera membersihkan mesjit dengan sangat cepat, aku berharap mesjid ini bisa digunakan untuk sholat zuhur berjamaah.
Aku tahu ini sangat berat bagi ku, tapi.. aku mencoba, walau terasa lelah dan capek, 2 jam sudah aku berkutik dengan bangunan tersebut, dan sekarang semuanya cukup bersih, setidaknya, lebih bersih dari yang semula.
Aku pulang kerumah, dan membersihkan diriku, hendak bersiap sholat berjamaah di mesjit desa. Jam 11.30 wib, aku tiba di mesjit, ketika masuk mesjit aku langsung membaca ayat suci alquran, agar kemudahan selalu berada di didekat kami semua, 30 menit lagi saatnya azan zuhur, baru aku sadar, tidak ada seorang muazin disini, aku bertanya didalam hati, siapa yang akan menjadi muazin, tidak ada satu orang pun yang terlitas difikiran ku, aku seegera keluar mencari seorang laki-laki, disana aku melihat seorang bapak-bapak yang kelihatan terburu-buru
“maaf pak, apa bapak bisa azan sebentar, sekarang hampir masuk waktu zuhur pak, dan tidak ada seorang muazin disini ” kataku menanyakan kepada bapak itu
“maaf nak !! Saya harus buru-buru ke pabrik, ada pertemuan disana, cari orang lain saja ya nak” kata bapak itu menjelaskan, kemudian ia berlalu meninggalkan aku sendirian
Aku melihat lagi 2 orang bapak-bapak, mereka sedang berjalan hendak pergi kesuatu tempat, baju mereka sangat bagus, dan sepertinya mereka ingin pergi kesuatu pertemuan atau kesebuwah acara
“bapak, apa diantara bapak ada yang mau azan, karena sebentar lagi hampir memasuki waktu sholat zuhur ”
“maaf nak, bapak harus segera ke pesta pernikahan, bapak sebagai saksi disana, cari yang lain aja ya !!”, kedua bapak itu juga pergi meninggalkan ku
Apa yang aku lakukan sekarang, sedang waktu yang tersisa hanya 10 menit lagi, aku melihat sekelompok mahasiswa, aku mendekati mereka dan bertanya
“maaf, apa ada salah satu dari kalian yang bisa azan di mesjit, waktu sholat akan segera tiba”
salah satu laki-laki menjawab, “ maaf dik, kami harus segera pergi belajar kelompok, besok kami akan ujian, maaf ya” mereka juga pergi meninggalkan ku.
Aku tahu satu hal, sudah tidak ada waktu yang tersisa lagi, waktu sholat hanya tinggal 5 menit, aku berjalan dengan lemah menuju mesjit, “apa yang terjadi disini”, aku bertanya dalam hati.
Aku terduduk di dalam mesjid dan bersujut, berkata dalam hati “ya... Allah, engkau maha segalanya, kenapa kau jadikan hambamu menjadi seperti ini? Apa yang salah pada kami ya Allah, apa yang salah sehingga kami harus menerima hukuman mu, ya.. Allah, jangan pernah kau hukum kami semua dengan hukuman ini, kuatkanlah hati kami ya.. Allah, kuatkanlah iman kami ya.. Allah, jangan pernah kau palingkan kami dari petunjuk mu ” aku benar-benar merasa kacau, apa yang sedang terjadi, kenapa tidak ada satupun yang mau mengingat Allah, kenapa? Apa ini hukuman yang paling mengerikan yang Allah berikan, hukuman yang membuat kami lupa akan dia, lupa akan kebesarannya.
“Allah...hu..ak..bar allah... hu..ak.. bar”
Suara itu mengagetkan ku, Allah hu akbar ucapku takjup, aku melihat sosok itu, ternyata dia adalah seorang ustad, entah dari mana ustad itu datang. “Engkau maha pengasih lagi maha penyayang ya.. Allah” ucapku dalam hati
Tiba-tiba aku melihat keluar mesjid, subhannallah ucapku penuh takjub, masyarakat desa datang, mereka datang untuk sholat berjamaah, mereka semua telah datang. Terimakasih ya..Allah, terimakasih atas rahmat mu.

NB : yang paling penting dari semuanya adalah ketika hati mu bergetar disaat mendengar nama Allah.

Sumber :
Nama : Devi Elvira / IPA 2010


»»  READMORE...

Cerpen Cinta Kala Takbir Bersenandung Cinta

Cerpen Cinta, cerpen sedih, cerpen tentang islam, cerpen tentang anak sekolah, cerpen remaja, cerpen bahagian, cerpen penuh dengan hikmah dan lain lainnya dapat sobat kirim kan di berry blog ke email berryhardisakha@ymail.com, seperti cerpen berikut yang berjudul Kala Takbir Bersenandung Cinta dari berbagai kumpulan cerpen yang dikirim oleh :


Nama Lengkap: Agung Kharisma
Alamat: LINGK.CIWARU RT 01 RW 08 CIPOCOK JAYA

Nah berikut cerpennya :

Kala Takbir Bersenandung Cinta

Pada tanggal 26 Desember 2004, pernah terjadi sebuah bencana yang menggemparkan tanah air yakni peristiwa tsunami di Aceh. Pada waktu itu, ayah dan ibuku sedang pergi keluar kota tepatnya Jakarta. Adzan dzuhur berkumandang setelah bel sekolahku berdering. Aku dan Ricky telah berada didepan mushola yang berada disekolahku.

Suara iqamat telah bersenandung dengan merdunya yang memaksa kami untuk segera mengambil air wudhu. Tepat setelah iqamat selesai bersenandung, kami telah usai mengambil air suci. Kami berdua telah berada tepat di barisan shaf paling depan, dekat dengan sang Imam.

Sholat berjamaah yang begitu khusu dan khidmat, hingga terdengarlah sebuah salam sebagai pertanda sholat telah usai.

Kami berdua pun beranjak pulang. Aku teringat, jikalau hari ini ayah dan ibuku tak bisa menjemput kepulangan adikku dari sekolahnya, dikarenakan mereka sedang ada urusan untuk bertemu dengan seorang clientnya yang ada di Jakarta.

Dengan segera kucari angkutan umum yang menuju sekolah adikku, dengan tujuan menjemputnya pulang. Selang beberapa menit berlalu, telah sampailah mobil yang kutumpangi didepan sebuah sekolah yang tak lain ialah sekolah adikku tercinta.

Kulihat sosok kecil yang tengah berdiri menantiku, seulas senyum terulas dari wajahnya yang polos.

Kusapa ia sambil kuberikan seulas senyum manis padanya.


"Zakia, maaf telah lama membuatmu menunggu. Kini sudah saatnya kita pulang ke rumah. Zakia ayo kita pulang sekarang ."

"Iyah tak apa-apa kakak. Aku senang karena kakak telah meluangkan waktu hanya untuk datang dan menjemput adikmu ini. "

"Sudah merupakan keharusan bagiku sebagai seorang kakak untuk menjemputmu wahai adikku yang manis." kataku sambil memberinya sebuah pujian supaya ia merasa senang.

  "Ah... Kakak bisa saja. Oh, aku terlupa akan sesuatu kak!"

  "Apakah itu adikku?"

  "Buku catatan kimia milikku tertinggal di meja"

  "Biar kuambilkan untukmu yah, adikku"

  "Sudahlah kak, Zakia tak enak hati bilamana terus merepotkanmu. Biar aku saja yang mengambilnya sendiri."

  "Kau tak usah sungkan dik, tapi Kakak punya sebuah saran yang bagus. Bagaimana jikalau kita mengambilnya bersama. Setuju?"

  "Setuju kak! Ide yang bagus."



  Kami berdua beranjak menaiki tangga, satu persatu anak tangga kuinjak dengan hati-hati dan pergelangan tangan adikku telah kupegang erat supaya ia tak terjatuh dari tangga.

  Diambilah sebuah buku yang Zakia tinggalkan di meja tempat ia meletakannya. Ketika kami berdua keluar dari kelas Zakia, bumi berguncang dengan keras sampai-sampai kami roboh dan terjatuh. Kupeluk adikku itu erat-erat.

  Ombak setinggi 10 meter menerjang hululalang perkotaan yang ada dihadapannya dalam satuan sekon. Kami hanya bisa berdo'a kepada Tuhan agar kami diselamatkan dari bencana maut yang tengah menghantui setiap jiwa yang akan dihantam olehnya.



  "Yaa Allah bilamana masih tersisa umur untuk kami berdua, maka selamatkanlah kami berdua dari bencana yang maha dahsyat ini. Hanya Kepada-Mu Lah kami meminta pertolongan. Amin"



  Hanya tinggal 2 km lagi, ombak tinggi besar itu akan segera menghantam sekolah berlantai dua yang kami tempati sekarang.

  Disekitar kami, terdapat begitu banyak orang yang mencoba melarikan diri mereka masing-masing tanpa memikirkan keluarganya.

  Yang mereka pikirkan, hanyalah menyelamatkan diri dari amukan ombak pembunuh massal yang dapat melahap jutaan jiwa didepannya.

  Sejenak kuterheran dengan tanah kelahiranku, mengapa terjadi bencana seperti ini?? Seingatku tak pernah kami berbuat kerusakan dimuka bumi.

  Adikku pun hanya bisa menutup matanya sambil merintih-rintih ketakutan. Dan apa yang bisa kuperbuat saat ini?? Tak ada!!!

  Hanya kepasrahan dan kerelaan menerima segala apa yang akan kudapati beberapa detik lagi yakni sebuah hantaman keras yang melululantahkan bangunan kokoh tempat kami berdua berlindung dari ganasnya amukan ombak.

  Ombak pun menerjang bangunan yang kami tempati. Entah, hal apakah yang seharusnya kulakukan, tapi satu hal pasti yang kutahu jikalau Tuhan akan melindungi seorang hamba yang berbakti kepada-Nya.

  Kuucapkan kalimat dzikir tiap detiknya, hingga bangunan tersebut tak kuat lagi bertahan.

 Lantai di sekitarku retak berjatuhan hingga terdengar retakan kecil disamping kananku, tepatnya tempat dimana adikku duduk.

  Spontan, kupegang erat tangan kecilnya ketika lantai itu retak dan jatuh terbawa arus.

  Kukuatkan tekadku untuk menarik malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuk kujaga, kuangkat tubuh kecilnya naik keatas bangunan yang tak rusak diterjang derasnya air.



  "Zakia, bertahanlah!! Jangan lepaskan tanganmu!!! Kakak akan menarikmu dengan sisa tenaga yang ada!! Tak akan kubiarkan kau jatuh kebawah!! Tak akan!!!"

  "Tapi Kak.....aku sudah tak kuat lagi. Sudahlah, lepaskan saja uluran tanganmu itu kak........ Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Zakia minta maaf yah, jikalau selama ini Zakia nakal dan tak mau menghiraukan apa saja yang kakak bilang padaku."

  "Jangan berkata seperti itu Zakia!! Kakak sayang padamu!!! Tak akan kubiarkan kau terluka sedikitpun!!! Tak akan!! Uuuuaaaahhhhhhh!!!!!" Kutarik ia dengan sekuat tenaga dan berhasil kuselamatkan tubuh mungil nan lucu itu.



  Dia pun tersenyum kearahku, sambil meneteskan sebuah air mata, air mata kasih sayang antara kakak beradik yang tak akan lekang dimakan waktu.

  Sesaat setelah kuselamatkan ia, kutersadar bilamana tempatku berdiri merupakan tempat yang rapuh. Dan terdengar olehku suara retakan yang membesar, hingga membuatku tak punya pilihan lain kecuali mendorong Adikku kearah bangunan yang masih utuh.

  Kudorong ia dan ternyata usahaku itu tak sia-sia. Dia terselamatkan dari retakan yang akan menjatuhkannya kedalam arus ganas tak bersahabat, sedangkan aku????

  Aku terjatuh terbawa derasnya air yang menderu, terdengar olehku suara yang tak asing di telingaku, suara merdu dari lisan sang adik tercinta, yang semakin kabur ditangkap oleh indera pendengaranku yang tergenang air begitu banyak.



  "Kaakaaaaaaaaaaak!!!!!"



  Semuanya menjadi gelap dan sepi. Inikah alam bawah sadar manusia??? Ataukah aku telah meninggal???



  kuterbangun oleh sinar yang menyilaukan mata. Alhamdulilah, terimakasih telah kau berikan daku umur panjang Yaa Allah.

  Kuangkat puing-puing bangunan yang menimpa salah satu organku yang kugunakan untuk berjalan.

 Terasa begitu sakit saat kuangkat bongkahan material bangunan yang menindih kaki kecilku yang nan mungil. Rasa ngilu dan nyeri yang berkepanjangan membuatku tergolek lemas dan tak berdaya.

 Kupandangi langit-langit ciptaan Tuhan yang menyelimuti dunia. Sejenak aku putus asa, sekujur tubuhku tiba-tiba tak merespon untuk mematuhi apa yang di instruksikan oleh otakku. Ayo bergerak!!! Bergerak!!!!

 Perasaan putus asa menghantui pikiran yang kosong ini. Mungkin raga ini telah terbentur begitu keras dengan apa saja yang terbawa oleh arus air.

  Hingga terbayanglah sebuah sosok dalam benakku, sosok yang begitu familiar dalam memori dan ingatanku. Aku ingat benar siapa sosok yang hadir dalam angan di kepalaku. Ya, dialah adikku, Zakia.

  Kukumpulkan semua semangat untuk melawan kelumpuhan organku yang tak mau mematuhi perintah otak.

  Perlahan jemari tanganku dapat kugerak-gerakan, kaki kiri dan kananku pula dapat bergerak.

 Terbangunlah badanku yang sempat tergolek lemas ditanah. Semua itu karena kekuatan cinta. Cinta seorang Kakak terhadap adiknya, cinta tanpa pamrih sedikitpun yang dapat memberi kekuatan internal pendorong semangat membara.

  Terdengar suara adzan di sekitar tempatku berdiri. Ah...ternyata suara itu berasal dari Masjid Baiturrahman dan letaknya tak jauh dari pandanganku yang sedikit kabur tepatnya hanya sekitar 500 meter dari tempatku berdiri sekarang.

  Kulangkahkan kakiku menuju singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa tepatnya sebuah Masjid. Suara adzan terdengar syahdu oleh telingaku yang sedikit berdebu dikarenakan ombak yang menyeret badanku yang tak berdaya ini.

  Ngomong-ngomong, di manakah gerangan adikku??? Kulihat disekelilingku pemandangan yang tak mengenakkan hati, terlihat olehku mayat-mayat manusia bertebaran di tanah lapang yang berantakan.

  Semoga saja Adikku baik-baik saja Yaa Allah. (Batinku meminta pada Tuhan Yang Maha Kuasa).

 Tak kuperdulikan robekan luka dikaki dan di sekujur tubuhku yang penuh darah. Yang kupikirkan saat ini hanyalah adikku, Zakia.

  Kuteringat, jikalau di dalam Masjid Baiturrahman terdapat pula kamar mandi, aku dapat menggunakannya untuk mandi dan membersihkan tubuhku yang lusuh dan berdebu.

  Terdengar olehku riak air yang keluar dari keran pipa air tepat dihadapanku. Terlihat sosok seorang gadis kecil tengah mengambil air wudhu.

  Kucermati sosok itu baik-baik dan ternyata, dialah adikku yang selama ini kukhawatirkan keadaannya. Syukurlah, jikalau dia yang kucintai selamat.

  Terimakasih Ya Allah. (Batinku seraya mengucap syukur  kepada Tuhan).

  Kuteriakan namanya dengan suara nyaring sambil berlari kearahnya.


  "Zakiaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!"


  Dia pun tersadar akan kehadiranku, dipalingkannya wajahnya dari tempat semula dan kini tertuju padaku.

  Responnya begitu melihat kehadiran dia yang dicintainya yakni akulah, kakaknya. Langsung dia berlari sambil berteriak memanggil namaku.

 "Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaak. Kaaaak Aguuuunng!!!" teriaknya sambil berlari-lari kecil dari tempat semula ia berdiri.

 Kupeluk erat sosok manis di hadapanku itu, yang tak lain ialah adikku tercinta. Limpahan tetesan air mata jatuh tak terbendung dari dua bola mata kami yang membasahi wajah.

Suara adzan yang terus berkumandang dengan merdu, seakan-akan suara itu merupakan senandung lagu indah yang diperuntukkan kepada kami yang tengah terharu biru atas sebuah pertemuan di kala adzan bersenandung dengan nuansa cinta yang membalut setiap alunan suaranya. 


»»  READMORE...

Keajaiban Cinta - Cerpen Cinta


Berikut cerpen cinta yang baru saja dikirim oleh pengunjung berry blog, bagi sobat yang mau ngirim karya tulisnya berupa cerpen dan lain lain, silahkan kirim ke berry blog dengan ketentuan original dan tidak pernah di publikasikan di web lain sebelumnya. berikut data pengirimi :


Keajaiban Cinta - Cerpen Cinta


Nama : Reza Natadipura
TTL         : Serang, 13 Oktober 1988
Alamat : Jl. Riung Arum Raya No. 5

KEAJAIBAN CINTA

Awal Mula
Pada suatu masa, lahirlah seorang bernama Philo. Ia seorang pria yang dilahirkan didalam keluarga yang berkucupan, Tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Dia tergolong anak yang mampu didalam lingkungan tempat tinggalnya. 
Ketika usianya menginjak usia 13 tahun, Philo merasa minder karena teman-teman sebayanya sudah memiliki pacar, sedangkan dia belum mengerti apa itu pacar apalagi tentang cinta. Sungguh malang sekali nasib Philo ini.

Pencarian Jati Diri
Beberapa tahun kemudian, saat dia menginjak usia 15 tahun, Philo merasakan bahwa dirinya sudah dewasa dan dia menginginkan kedewasaan seperti pria sebayanya. Pada saat itu Philo baru merasakan suka kepada lawan jenis. Saat itu, ketika Philo baru duduk dibangku SMA, Philo merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Philo mempunyai perasaan yang berbeda setiap kali bertemu dengan teman wanita didekat rumahnya. Dia merasakan selalu ingin dekat dengan wanita tersebut.
Saat Philo mulai bertanya-tanya tentang apa yang dia rasakan, saat itu pula dia mulai mencoba mendekati wanita yang disukainya. Keberanian itu timbul saat dia benar-benar tertekan oleh keadaan dan perasaan dalam jiwanya yang tak bisa dibendung.

Percobaan Cinta
Beberapa bulan Philo melakukan pendekatan akhirnya dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya itu pada wanita yang dia sukai. Muka memerah, jantung berdebar kencang dan mata pun tak sanggup dikedipkan oleh Philo saat menanti jawaban Luna. Luna adalah wanita yang selama ini dia sukai. Namun, Luna meminta waktu untuk memikirkan semua itu, karena mungkin wanita selalu berfikir panjang terhadap segala hal.
Akhirnya, rasa penasaran Philo yang kian menganggunya dalam mimpi-mimpi dimalam hari itu pun terjawab sudah. Luna memutuskan untuk mencoba suatu hubungan bersama Philo. Philo terdiam sunyi bagaikan lautan yang tak diterpa ombak mulai memerah paras wajahnya dan detak jantungnya mulai tak karuan. Itulah luapan emosi yang diberikan Philo melalui ekspresi wajahnya.
Waktu demi waktu bergulir, hari demi hari berganti dan terasa tak ada lagi yang menghalangi cinta mereka, dunia terasa milik berdua. Namun ada pepatah mngatakan sehebat-hebatnya rencana manusia tak bisa melawan Kuasa Yang Maha Kuasa. Philo tak menghiraukan itu, Ia terus saja menganggap bahwa Dia akan selalu bahagia bersama Luna untuk selamanya.

Patah Hati
Waktu itu pagi tak terasa sejuk, udara tak begitu mengenakan bagi Philo. Udara pagi membuat Philo merasa tak bersemangat untuk melakukan kegiatan apapun. Philo memtuskan untuk keluar sejenak mengambil nafas dan matanya terbelalak ketika melihat matahari pagi tak Nampak. Ia pun bertanya-tanya, ada apa dengan semua ini? Langit tak bisa menjawab, hanya burung-burung yang memberikan isarat padanya. Tak lama kemudian Luna memberikan sebuah surat, didalam isi surat itu berisikan amplop cantik berwarna merah. Tak disangka Luna membuat Philo hilang akal dan tak berdaya sejenak. Philo patah hati, Luna memutuskan hubungan yang sudah lama berjalan itu dengan mudahnya. Tanpa sebab, Philo pun berusaha untuk menutupi kesedihannya dengan cara tertawa kecil. Hancur, sakit dan tak ada satu patah kata pun yang bisa diucapkan Philo.
Philo menumpahkan segala perasaannya lewat secarik kertas kosong, lalu Ia tuangkan bait-bait kekesalannya dengan tangan yang sebenarnya tak mampu lagi untuk bergerak dan bibir yang tak mampu lagi berbicara, namun Philo tetap menggoreskan tinta hitamnya dengan mata berkaca dan hati yang teriris duri.
Philo coba bercerita dalam secarik kertas namun tak cukup. Ia kembali mengambil kertas lainnya dan coba kembali menulis kisah-kisahnya itu. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukannya saat ini. Sebuah kata yang tak berujung terus ia kembangkan dengan penuh kegelisahan.

Coba Untuk Bangkit
Beberapa puisi ia sempat tulis, namun ia tak bisa terlena dengan semua itu. Disisi lain Philo pun tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia masih sangat mencintai Luna. Akhirnya Philo mencoba untuk kembali mendapatkan cinta Luna walaupun semua mustahil.
Beberapa usaha ia coba lakukan untuk kembali mendapatkan Luna. Dan pada suatu saat Philo memberikan kejutan dengan menciptakan Puisi Cinta untuk Luna, kemudian Ia memberikan puisi tersebut pada Luna. Luna pun terkesan dengan puisi seorang pujangga kacangan itu. Luna pun menerima kembali Philo untuk jadi kekasih hatinya. Philo pun sangat bahagia saat mendengar jawaban dari Luna

Awal Cerita Baru
Seperti baru terlahir kembali di dunia, Philo mencoba untuk berikan kembali cinta yang tulus dengan segenap jiwa raganya. Waktu demi waktu telah dilalui bersama, Philo merasakan bahwa hubungan mereka sudah sangat mendalam. Luna pun berpikiran yang sama, kali ini Luna benar-benar tulus mencintai Philo. Sungguh bagaiakan kisah Romeo n Juliet dalam cerita. Perjalanan cinta mereka terus berjalan tanpa ada yang bisa mencegah dua insan manusia tersebut. Cinta mereka yang semakin besar dan kasih mereka yang semakin dalam telah membuat mereka sulit tuk dipisahkan.

Khilaf 
Namun, apalah daya, manusia hanya bisa merencanakan sedangkan Tuhan yang memiliki kuasa dan keputusan. Wajah tegar Philo seolah menantang Kuasa Yang Maha Kuasa. Setelah sekian lama Philo menjalin hubungan bersama Luna namun akhirnya kandas juga. Dikarenakan sikap Philo yang telah melampaui batas kasih sayang yang sebenarnya. Luna pun menyesal, mereka berdua telah menghancurkan cinta putih nan suci yang mereka bina selama ini hanya dalam waktu sekejap saja. Khilaf, hanya itu kata terekhir yang bisa terucap dari bibir Philo dan hanya linangan air mata yang dapat Luna berikan pada saat itu. Kemurnian cinta telah hina karena emosi dan hawa nafsu yang tak bisa terbendung. Sungguh ironis.
Sumber : My First Love dan Novel ‘Dunia Sophie’
Soucre : natadipura.com


»»  READMORE...